Jumat, 28 Oktober 2011

“ Mocaf ” Primadona Tepung, Alternatif Pengganti Terigu

Salah satu komoditas pangan yang patut dipertimbangkan untuk dikembangkan di Indonesia khusunya di pulau Jawa adalah umbi-umbian seperti singkong atau ubi kayu atau ketela atau cassava. Kondisi tanah dan iklim Indonesia sangat cocok untuk ditanami singkong. Di Indonesia, singkong telah dapat diolah lebih lanjut menjadi gaplek, sawut, tepung tapioka, tepung singkong dan yang terbaru adalah tepung mocaf.  Beberapa produk yang telah disebutkan seperti gaplek, sawut, tepung tapioka dan tepung singkong sudah tidak asing lagi di telinga namun bagaimana dengan tepung mocaf ? Tepung apakah ini?
Tepung Mocaf dikenal sebagai tepung singkong alternatif pengganti terigu. Kata MOCAF sendiri merupakan singkatan dari Modified Cassava Flour yang berarti tepung singkong yang dimodifikasi. Tepung MOCAF memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi dan kemudahan melarut yang lebih baik.

Kamis, 27 Oktober 2011

Rekayasa memutus cinta antara asam sitrat dan air

Ekstraksi asam sitrat dari air dengan teknik ekstraksi reaktif (1996-1998)
Asam sitrat adalah asam organik yang bertanggung jawab memberi rasa masam pada buah jeruk. Asam ini adalah asam yang sangat popular di dunia industri pangan dan farmasi karena siapa yang tidak suka jeruk? Rasa masam jeruk yang ditambahkan dalam kue-kue mampu menyembunyikan ketidaksempurnaan si koki dalam satu hal atau yang lain. Beberapa tetes asam sitrat juga dapat membuat rasa pahit obat tidak terlalu menyengsarakan, sehingga orang-orang sakit tidak merasa ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Secara alamiah, asam ini ada di buah jeruk dan beberapa jenis buah yang lain. Tapi jika kita bicara soal produksi komersial dalam skala kuintal per hari (jumlah perputaran asam sitrat di pasar dunia sekitar  1 juta ton per tahun di awal abad ke-21 ini), maka tentu tidak masuk akal memproduksi asam sitrat dengan cara memeras jeruk. Cara yang masuk akal untuk memproduksi asam sitrat dalam skala industri adalah fermentasi, yaitu mempekerjakan makhluk-makhluk mikro golongan jamur yang namanya Aspergillus niger (jamur ini juga untuk  proses fermentasi onggok hasil samping pembuatan tapioka dari bahan singkong / ketela /cassava). Sebetulnya mereka hanya melakukan fungsi alamiahnya saja: makan sesuatu dan akibatnya mengeluarkan sesuatu. Dalam hal ini, mereka makan gula dan menghasilkan asam sitrat. Tapi perlu campur tangan bioprocess engineer supaya mereka tidak korupsi gula untuk membuat produk yang lain.

Rabu, 26 Oktober 2011

Urged to rethink the plan to develop cassava plants

Cassava products have been selling like hot cakes. Meanwhile, the consumption is expected to increase further in the next years. However, development programmers still have been called to reconsider the plan to develop cassava (ketela,singkong in indonesia) plants (no tapioka plants)

The rise of the cassava plants
It is now the second time that Vietnam has witnessed the boom of cassava plant since 1975. The first time occurred during the first years after the country’s union, when the rice and maize output was low. Just within three years, since 1979, the cassava growing area increased by two folds, to the record high of 461,400 hectares, while the output also climbed to the record high of 3.422 million tons.

Selasa, 25 Oktober 2011

From tapioca to biofuel

SWEET tea-time treats may soon find their way into your car’s petrol tank — a research team from Universiti Tunku Abdul Rahman’s (Utar) Faculty of Engineering and Science is studying the use of cassava (ketela,singkong in indonesia) , better known as tapioca (tapioka), and sweet potato in the production of biofuels.

“Rising global crude oil prices has prompted the search for alternative energy sources to reduce the reliance on crude oil, and this has opened up a lot of opportunities worldwide,” says Dr Low Chong Yu, who leads the research team comprising students Lim Syly, Koh Cin Cong and Voon Meng Seap.

Senin, 24 Oktober 2011

Farmers chop down sugar cane to grow cassava

For the last 37 years, Quang Ngai province has been considered the “sugar cane metropolis” of the central region. However, farmers in Quang Ngai province do not grow sugar cane any more, but cassavas instead. Cassavas can bring higher profits than sugar cane. The area for growing sugar cane has been reduced gradually in the central province.

Currently, dozens of intermediary merchants are competing fiercely with cassava processing plants to collect cassava (ketela , singkong  in indonesia) from farmers. Plants are purchasing fresh cassava from farmers at 1800 dong per kilo, and merchants have also raised the purchase price to 1800 dong per kilo. Cassava slicing machines have been running day and night, while merchants have been going to every corner in villages and communes to collect cassavas.

Minggu, 23 Oktober 2011

Collaboration on cassava-based ethanol

Thailand has teamed up with neighbouring countries to develop ethanol from fresh cassava , aiming to turn the kingdom into a regional technology and production centre for cassava-based renewable fuel. In Indonesia fresh cassava is raw material for strach (tapioka).

Under a programme called South-South Technology Transfer: Ethanol Production from Cassava (ketela,singkong  in indonesia), which is funded by the Global Environmental Facility (GIF), Thailand will be a focal point in forging cooperation with Vietnam, Laos, and Burma.

Biofuel Generasi Kedua, Dari Rumput dan Limbah

Pipa dan tangki stainless steel tersusun rapat dalam kolom setinggi 4lantai di sebuah pilot plant Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Banten. Dalam struktur rumit itu, para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengubah kayu, jerami, dan rumput menjadi bahan bakar. "Pilot plant ini bagian dari tren baru dunia dalam menciptakan bioenergi dari bahan nonpangan, menghasilkan pengganti bensin generasi kedua," ujar peneliti bioetanol dari Pusat Penelitian Kimia, LIPI, Yanni Sudiyani, kepada Tempo pekan lalu.